Blog Pribadi Yang Semoga Tulisannya Bermanfaat Bagi Pembaca

22 Jun 2018

Pengertian Riba Yang Ada Di Al-Qur'an Tidak Sama Dengan Praktek Perbankan Nasional Saat Ini

Pak Nadirsyah Hosen
Diskusi yang bagus.
SETUJU RIBA diharamkan.
Namun menurut saya, pengertian riba yang ada di Alquran tidak sama dgn praktek perbankan nasional saat ini.
Tentu muncul pertanyaan, apa perbedaan riba vs perbankan?
Jawabannya begini:
Fungsi Perbankan nasional adalah sbb:

1. Perbankan sebagai pengatur uang beredar di suatu negara. Misalnya, pada saat uang beredar terlalu banyak, maka harga barang akan mahal (inflasi). Biasanya jika harga barang mahal yg dirugikan adalah rakyat kecil yg bergaji rendah. Nah fungsi Bank Indonesia (BI) adalah menaikkan interest rate (suku bunga) sehingga orang berlomba-lomba memasukkan uangnya ke deposito ke bank komersial, sehingga uang yg beredar menjadi berkurang dan harga menjadi turun.

2. Pada saat sektor real lesu (misalnya properti lesu), maka untuk meningkatkan laju pertumbuhan sektor real, BI (lewat perbankan) akan menurunkan interest rate (suku bunga) sehingga perusahaan akan meminjam untuk melakukan investasi. dengan bergairahnya kembali sektor properti akan memerlukan tenaga kerja (insinyur sipil, tukang dll) sehingga mengurangi pengangguran, dan meningkatkan konsumsi masyarakat.

3. Perbankan sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Contoh sederhana sbb: misalkan sebuah PT. P yang ada di Irian ingin membeli 20 truk dan 50 mobil (total proyek misal 20 milyar selama 3 tahun) yang akan mempekerjakan 70 pegawai. Otomatis PT. P akan melakukan tender terbuka bukan? Misalnya pemenangnya adalah PT. A dengan marjin keuntungan 15%. Tentunya PT. A tidak punya uang kontan cash. Untuk itu, PT. A akan berhutang ke Bank B dgn interest rate 8%. Dengan begitu PT A masih untung 7%. Dari mana Bank B dapat uang, ya dari nasabahnya yang menaruh uang ke deposito dgn suku bunga 6%. Jadi Bank masih untung 2%.

Itu baru dari 1 proyek, bayangkan kalau ada ratusan proyek, maka banyak orang yg bekerja, pendapatan masyarakat dan ekonomi meningkat.

4. Islam menghalalkan jual beli kan ya? Nah perbankan itu sebenarnya melakukan jual beli jasa perbankan. Misal DPLK PPIP/PPUKP adalah jasa perbankan untuk mengelola dana pensiun agar uang pensiun tumbuh dan aman. Agar pada saat sudah tua dan sudah pensiun, kita bisa mendapat uang bulanan utk membiayai hidup setelah pensiun dll.

5. Dengan adanya Bank, uang masyarakat tidak kehilangan daya belinya. Contoh: tahun 1988 uang 50 ribu bisa untuk makan anak kos sebulan. Namun sekarang thn 2018 uang 50 ribu hanya cukup untuk makan anak kos 1 hari. Nah kalau pada tahun 1988, uang 50 ribu itu dimasukkan ke deposito, maka di tahun 2018 mungkin sudah berkembang sehingga bisa untuk makan anak kos 1 bulan. Jadi bank menjamin uang kita memiliki daya beli yg sama 2 atau 5 tahun ke depan.

Sedangkan riba dalam Alquran merujuk ke praktek lintah darat atau tengkulak, dimana ada orang yang pinjam uang untuk makan (100 ribu), kemudian diminta kebihan 150 ribu. Praktek ini jelas HARAM karena tidak ada manfaatnya buat masyarakat banyak.

#FungsiBankBukanRiba

Salam Damai,
Akmaluddin Said

diatas adalah comment dari posting ini >> https://www.facebook.com/NadirsyahHosen/posts/2068921913356084


Benarkah Dosa Riba Lebih Berat dari Berzina?

Keharaman riba telah disepakati oleh para ulama. Namun apakah bunga bank itu termasuk riba? Para ulama berbeda pandangan. MUI mengatakan: Iya, termasuk riba. Namun para ulama Mesir yang tergabung dalam Majma’ al-Buhuts Islamiyah (MBI) mengatakan tidak. Mufti Taqi Usmani dari Pakistan mengatakan Iya. Namun Mufti Nasr Farid Wasil dari Mesir mengatakan Tidak. Syekh Wahbah az-Zuhaili mengatakan Iya. Sayyid Thantawi (Grand Syekh al-Azhar) mengatakan Tidak.

Jadi, buat ulama yang menganggap bunga bank termasuk riba, maka hukumnya haram, dengan segala konsekuensinya termasuk bekerja di bank konvensional. Sementara buat ulama yang menganggap bunga bank bukan termasuk riba maka hukumnya boleh, termasuk boleh bekerja di bank konvensional.

Sampai sini, sudah jelas yah? Gak usah ribut. Ini perkara khilafiyah.

Namun belakangan ini beredar meme/gambar sampai baliho/spanduk yang mengutip hadits Nabi yang mengatakan 1 dirham riba lebih besar dosanya dari perbuatan zina sebanyak 36 kali. Bahkan ada hadits yang lebih serem lagi: Riba memiliki 72 pintu. Yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandung.

Mari kita bahas sanad dan matan kedua hadits di atas. Sahihkah haditsnya?

Hadits dengan redaksi yang mirip banyak diriwayatkan melalui berbagai jalur periwayatan: Abu Hurairah, Ibn Mas’ud, dan Siti Aisyah. Para ulama sudah membahasnya dan mereka berselisih mengenai sahih atau tidaknya hadits-hadits tersebut. Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak mengatakan haditsnya sahih sesuai kriteria Bukhari-Muslim. Namun ulama lain mengatakan tidak sahih.

Hasil pelacakan saya, hadits seputar dosa riba yang melebihi dosa perbuatan zina itu sanadnya lemah dan matannya mungkar. Ini alasannya:

1. Ibn al-Jauzi menjelaskan kedhaifan riwayat-riwayat hadits semacam ini dalam kitabnya al-Maudhu’at (juz 2, halaman 247):

ليس في هذه الاحاديث شئ صحيح

‘Gak ada satupun yang sahih dalam kumpulan hadits seputar masalah ini.’

Ibn Al-Jauzi mengutip bagaimana Imam Bukhari mengomentari sejumlah perawi hadits yang bermasalah.

Abu Mujahid: haditsnya munkar.
Thalhah bin Zaid: munkar.

Jadi bagaimana mungkin dikatakan haditsnya sahih sesuai syarat Bukhari-Muslim?

2. Syaikh Abdur Rahman al-Mu'alimi al-Yamani ketika mentahqiq kitab al-Fawa’id al-Majmu’ah fi al-Hadits al-Maudhu’ah (juz 1, halaman 150) menulis

‎والذي يظهر لي أن الخبر لا يصح عن النبي صلى الله عليه وسلم البتة

“yang jelas tampak bagiku bahwa khabar (seputar topik ini) tidak benar sama sekali berasal dari Nabi SAW.”

3. Ahli hadits lainnya Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab Ghauts al-Makdud bi Takhrij al-Muntaqa Libnil Jarud membuat kesimpulan:

‎أن الحديث لا يمكن نسبته إلى النبي صلى الله عليه وسلم ، لا تصحيحاً ولا تحسيناً ، وأحسن أحواله أن يكون ضعيفا ، وعندي أنه باطل ، وفي متنه اضطراب كثير

“Hadits semacam ini tidak mungkin dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW, statusnya tidak sahih dan juga tidak hasan. Paling banter dikatakan dha’if. Tapi buat saya haditsnya batil, dan di matan (teks)nya terdapat perbedaan redaksi yang banyak (mudtarib).”

4. Terakhir, Syekh ‘Ali as-Shayyah, dosen ilmu hadits di Universitas King Saud, Riyadh, Saudi Arabia melakukan riset tentang hadits seputar ini. Beliau menyimpulkan:

‎لم يصح شيء مرفوع إلى النبي صلى الله عليه وسلم في تَعْظيمِ الرّبَا على الزنا

“Tidak satupun hadits yang marfu’ bersambung kepada Nabi dalam topik lebih besarnya dosa riba daripada perbuatan zina”.

Jadi, dari segi sanad, hadits seputar topik ini dianggap lemah, batil, dan tidak sampai ke Nabi, oleh para ulama hadits di atas.

Dari sisi teks atau matan, hadits seputar ini juga bermasalah. Perbuatan zina itu termasuk dalam hal jinayat (pidana Islam). Sedangkan riba itu tidak termasuk dalam jinayat. Bagaimana mungkin dosa riba melebihi dosa perbuatan zina, apalagi dikaitkan dengan melebihi dosa menzinahi ibu kandung. 36 kali dosanya lebih besar. Jadi bagaimana hukuman cambuknya? 36 dikali 100 cambuk? Tidak masuk akal.

Karena itu kesimpulan saya hadits-hadits seputar masalah ini tidak bisa dijadikan pegangan kita. Wa Allahu a’lam

Tabik,

Nadirsyah Hosen

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pengertian Riba Yang Ada Di Al-Qur'an Tidak Sama Dengan Praktek Perbankan Nasional Saat Ini

1 comments:

  1. Nanti silahkan di paparkan om di dalam kubur kepada ALLAH SWT..,

    BalasHapus